Ini Cerita Warga Riau yang Terkurung 7 Hari dalam Perang Saudara di Sudan
Imam Wahyudi saat tiba di Bandara SKK II Kota Pekanbaru
ENAMPULUH.COM, PEKANBARU -- Ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) telah berhasil dievakuasi TNI dari Negara Sudan. Dari ratusan orang itu, sebanyak 41 orang merupakan warga Provinsi Riau. Dari 41 orang itu, baru 36 orang yang sudah dipulangkan ke Provinsi Riau.
Diketahui, Negara Sudan saat ini tengah mengalami perang saudara. Perang tersebut, dipicu oleh petinggi militernya, antara Kepala Angkatan Bersenjata Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, dengan pemimpin Rapid Support Forces (RSF) Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, atau lebih dikenal dengan nama Hemedti.
Masalah utama adalah rencana untuk memasukkan sekitar 100.000 RSF ke dalam tubuh tentara, dan siapa yang kemudian akan memimpin pasukan baru tersebut.
Kembali ke 36 orang warga Riau itu, mereka telah tiba di Kota Pekanbaru, Sabtu (29/4/2023). Salah seorang warga Riau yang berada di rombongan tersebut, menceritakan kisahnya saat terkurung dalam perang saudara terjadi di Sudan.
Dia adalah Imam Wahyudi. Mahasiswa S2 di Khartoum International Institute for Arabic Language itu, tampak bersyukur saat tiba di Kota Pekanbaru. Pasalnya, ia bersama istri dan seorang anaknya, sempat merasakan ketakutan karena diantara hidup dan mati.
"Alhamdulillah, kami telah sampai dengan selamat ke kampung halaman," kata Imam Wahyudi saat ditemui di Bandara Sultan Syarif Kasim (SKK) II, Sabtu sore.
Diceritakannya, sebelum dievakuasi, Imam dan keluarganya selalu mendengar suara ledakan. Belum lagi suara pesawat tempur yang terbang rendah tepat diatas rumah kontrakannya di Sudan.
"Suara tembakan di udara sangat jelas terdengar sampai sekarang. Apalagi pas malam hari, disana makin mencekam," ceritanya.
"Kami harus sembunyi dibawah rumah sambil berdoa agar tidak ada tidak rudal yang nyasar (ke rumah)," sambungnya.
Lebih lanjut diceritakannya, lokasi ledakan rudal itu tidak jauh dari rumah kontrakannya. Bahkan hanya berjarak 500 meter.
"Sepanjang malam kami berjaga secara bergantian dengan istri. (Sampai sekarang) masih trauma," tuturnya.
Belum sampai disitu, Imam beserta istri dan anaknya yang masih berumur 2 tahun 7 bulan itu, harus berjuang bertahan hidup selama 7 hari, sebelum berhasil dievakuasi. Saat itulah kesedihan dirasakannya. Dimana, kondisi saat itu listrik dan air mati. Belum lagi stok makanan yang sudah mau habis.
"Kami harus pandai - pandai membagi persediaan logistik untuk cukup. Makan nasi dan telur," bebernya.
Ia pun berharap agar konflik internal negara Sudan segera berakhir. Supaya dirinya dan istri bisa melanjutkan pendidikan S2 jurusan Bahasa Arab yang saat ini sudah masuk dalam tahap tesis.
"Harapan kami semoga perang disana cepat selesai dan bisa menyelesaikan S2 kami disana," harapnya.









