Insan Pers di Pekanbaru Berduka, Jurnalis Muhammad Syukur Tutup Usia
ENAMPULUH.COM, PEKANBARU - Insan pers di Kota Pekanbaru berduka mendalam. Muhammad Syukur, seorang jurnalis muda berbakat, penuh dedikasi dan berintegritas tinggi, berpulang ke Rahmatullah pada Jumat (10/10/2025) sekitar pukul 21.00 WIB di RS Awal Bros A Yani Kota Pekanbaru.
Dari RS tersebut, jenazah almarhum kemudian dibawa ke rumah duka di Bangkinang, Kabupaten Kampar. Selanjutnya, pada hari Sabtu (11/10/2025) sekitar pukul 10.20 WIB, jenazah Syukur dibawa ke mesjid yang tak jauh dari rumah duka untuk dishalatkan. Usai dishalatkan, Syukur dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya, yang juga tak jauh dari rumah duka.
Kabar duka ini menyebar cepat di kalangan wartawan dan komunitas media, khususnya di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.
Syukur merupakan wartawan Liputan6.com, yang dikenal sebagai pribadi santun, rendah hati, serta memiliki kepedulian besar terhadap isu-isu sosial dan kemanusiaan.
Cu Syu begitu sapaan akrabnya, dikenal melalui karya-karya humanis yang menyuarakan aspirasi masyarakat kecil. Ia tak hanya menulis berita, tapi juga menghidupkan nilai empati dan keadilan dalam setiap tulisannya.
"Kami kehilangan sosok jurnalis berdedikasi tinggi. Cu Syu bukan hanya rekan kerja, tapi juga sahabat yang selalu bisa diandalkan. Karyanya menjadi inspirasi bagi kami semua," ungkap M Ali Nurman, wartawan Riau Pos yang dekat dengan almarhum dengan suara bergetar.
Rekan-rekannya mengenang Syukur sebagai sosok yang tidak pernah mengeluh, bahkan dalam tekanan pekerjaan. Ia selalu hadir di lapangan, menulis dengan hati dan menjaga idealisme profesi hingga akhir hayatnya.
Bahkan, sebelum tutup usia, Syukur sempat menorehkan prestasi membanggakan. Karyanya dinobatkan sebagai terbaik kedua dalam Lomba Karya Jurnalistik (LKJ) 2024 yang digelar Polda Riau. Karyanya yang mengangkat kisah humanis aparat dan masyarakat dinilai kuat secara narasi, menyentuh sisi kemanusiaan dan mencerminkan jurnalisme yang berimbang.
Penghargaan tersebut menjadi bukti nyata atas kualitas dan dedikasi almarhum dalam dunia jurnalistik, sebuah pencapaian yang kini menjadi kenangan berharga bagi rekan-rekannya.
"Kemenangannya saat itu bukan hanya soal penghargaan, tapi cerminan betapa dalamnya kepedulian Cu Syu terhadap nilai kemanusiaan," ujar Mawan, wartawan Kumparan di Pekanbaru yang turut hadir di pemakaman almarhum.
Ucapan belasungkawa mengalir deras dari berbagai kalangan. Mulai dari sesama wartawan hingga pejabat dan komunitas masyarakat.
"Berita-berita yang ditulis Cu Syu selalu menyentuh hati. Ia menulis dengan nurani. Semoga amal baiknya diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," tutur Santi, wartawan RRI yang juga ikut hadir di pemakaman tersebut.
Di media sosial, linimasa dipenuhi foto dan kenangan tentang Syukur. Banyak yang menulis betapa ia adalah sosok yang bekerja dalam diam namun memberi dampak besar bagi pembaca.
Suasana haru menyelimuti rumah duka di Bangkinang. Sejumlah jurnalis dari berbagai media di Pekanbaru datang memberi penghormatan terakhir. Doa dan air mata mengiringi kepergian sang jurnalis muda yang dicintai banyak kalangan itu.
“Kami semua sangat kehilangan. Tapi kami percaya, Syukur sudah tenang di sisi-Nya. Kami akan terus melanjutkan semangat dan integritas yang selama ini dia tunjukkan dalam profesi kami," terang Santi.
Kepergian Muhammad Syukur meninggalkan duka mendalam, namun juga warisan semangat tentang arti menjadi jurnalis sejati bekerja dengan hati, menulis dengan nurani, dan berjuang untuk kebenaran.
Selamat jalan, Muhammad Syukur. Karyamu tak akan pernah hilang, dan inspirasimu akan terus hidup di setiap berita yang memperjuangkan kemanusiaan.









